IBU KOTA NEGARA, LAHAN PANGAN, DAN WARISAN


 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh : Stella Sinaga, S.Si
Perencana pada bidang Prasarana Wilayah BAPPEDA Kaltim.

“Cikini ke Gondangdia, ku begini gara-gara dia. Cikampek Tasikmalaya, hati capek bila kau tak setia. Jakarta ke Jayapura, jangan cinta kalau pura-pura. Madura sampai Papua, jangan kira tak bisa mendua.”

Potongan lirik tersebut berasal dari sebuah tembang yang dibawakan oleh Duo Anggrek. Tidak sengaja saya menikmatinya dalam perjalanan ke Kecamatan Samboja. Belakangan ini, Samboja sedang naik daun. Keberadaannya menarik perhatian banyak khalayak. Mulai dari masyarakat, pejabat tinggi, pejabat biasa, media, pengusaha, hingga anggota dewan di tingkat pusat yang sebelumnya belum pernah tahu di mana letak Samboja.
       Samboja merupakan sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Kutai Kartanegara. Bersama dengan Kecamatan Sepaku di Kabupaten Penajam, dua lokasi ini akan menjadi calon pusat administrasi baru dari negara kita tercinta, Indonesia. Tepat pada Kawasan Perluasan calon Ibu Kota Negara di Samboja, terdapat lahan pertanian produktif yang cakupannya cukup luas. Salah satunya adalah Daerah Irigasi Sungai Buluh. Sesuai peraturan yang berlaku, Pemerintah Provinsi adalah pihak yang berkewenangan mengelola daerah irigasi ini. Luas rencana pengembangan Sungai Buluh mencapai 1.089 Ha. Menurut informasi dari ketua kelompok tani setempat, luasan yang fungsional baru mencapai 300 Ha. Dari luasan tersebut, baru 2/3 bagian yang produktif, atau sekitar 200 Ha dengan frekuensi panen 2 kali dalam setahun. Produktivits lahan saat ini maksimal adalah 4,5 ton per Hektar. Angka tersebut masih bisa dimaksimalkan dengan beberapa syarat. Salah satunya adalah tersedianya infrastruktur pengairan yang memadai.
       Saat ini aktivitas pertanian Desa Bukit Raya, desa di mana Daerah irigasi Sungai Buluh berada, masih menggunakan pola tadah hujan. Akibatnya, produktivitas lahan belum maksimal. Jika sedang hujan, air melimpah. Genangan dan banjir kerap terjadi. Sementara saat musim kemarau suplai air sangat minim sekali bahkan nihil.
       Pemerintah Provinsi telah bergerak melakukan beberapa upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan produktivitas Daerah Irigasi Sungai Buluh. Diantaranya, melakukan penambahan panjang jaringan irigasi dan meningkatkan kondisi jaringan eksisting. Selain menambah Panjang jaringan, tahun 2019 dibangun sebuah embung irigasi untuk menambah suplai air baku. Embung tersebut luasannya sekitar 2 Ha dengan kedalaman berkisar 3 meter. Tahun ini (2020) akan dibangun jaringan pembawa untuk mengalirkan air dari embung menuju lahan pertanian.
       Potensi besar dalam pemenuhan kebutuhan pangan terpampang nyata di Kawasan Ibu Kota Negara. Daerah Irigasi Sungai Buluh dapat menjadi Kawasan andalan penyedia pangan bagi kota baru yang dicita-citakan menjadi The Best City on Earth. Tetapi perlu diingat, manfaat dan dampak positif dari potensi ini bukanlah sesuatu yang pasti diperoleh. Semua tergantung dari kebijakan yang diambil, apakah pro pada aktivitas menjaga dan mengembangkan sebuah lahan pertanian produktif atau pro pada aktivitas lain yang lebih menguntungkan secara ekonomi.
       Di sekitar lahan pangan potensial dan produktif ini, juga berlangsung aktivitas pertambangan. Sebuah aktivitas yang secara ekonomi keuntungannya jelas lebih menggiurkan dibanding pertanian. Aktivitas pertambangan kabarnya telah mengganggu produktivitas pertanian setempat. Saat kunjungan dilakukan, tampak air yang masuk di jaringan irigasi berwarna coklat kemerahan. Diperkirakan warna tersebut diakibatkan oleh hadirnya zat atau limbah yang datang dari aktivitas pertambangan. Kelompok tani setempat juga memberikan informasi bahwa saat ini tingkat keasaman tanah di Sungai Buluh meningkat. Agar lahan tersebut tetap dapat ditanami dan menghasilkan komoditas, perlu tambahan pupuk atau zat kimia untuk mengembalikan tingkat keasaman ke level normal. Kondisi ini dapat mendukung asumsi bahwa kegiatan pertambangan telah mengganggu produktivitas lahan pertanian di Sungai Buluh.
        Jika Kawasan Ibu Kota Negara telah bergerak intensif maka besar kemungkinan areal pertanian Sungai Buluh akan mengalami tekanan untuk melakukan konversi lahan menjadi lahan non-pertanian. Keuntungan besar yang diperoleh masyarakat jika mendukung konversi lahan menjadi penggunaan yang sifatnya lebih komersil tentu akan membuat masyarakat pragmatis. Cenderung memihak pada pilihan yang lebih menjanjikan secara ekonomi.
      Hal-hal tersebut merupakan ancaman bagi eksitensi Daerah Irigasi Sungai Buluh. Langkah preventif harus diambil, salah satunya melalui kebijakan. Saat ini, setidaknya ada 3 keunggulan utama yang menjadi harapan keberlanjutan aktivitas pertanian di Sungai Buluh. Pertama, potensinya besar dan belum seluruhnya tergarap secara maksimal. Masih ada ruang dan harapan untuk meningkatkan produktivitasnya. Kedua, dukungan pemerintah baik pusat, provinsi, maupun kabupaten untuk menjaga fungsi areal pertanian Sungai Buluh. Ketiga, dukungan dari masyarakat setempat terutama dari kelompok tani.
      Tiga hal tersebut setidaknya cukup untuk mengambil langkah tegas terhadap aktivitas lain yang sekiranya mengganggu keberadaan dan produktivitas Sungai Buluh. Penyediaan pangan memang bukan merupakan sektor yang menjanjikan keuntungan secara instan. Tetapi perlu diingat bahwa manfaat dan dampaknya sangat luas dan menyentuh aspek lain yang lebih sustainable atau berkelanjutan.
      Selepas mengunjungi Daerah Irigasi Sungai Buluh, kami mampir makan siang di sebuah warung makan. Namanya Warung Warisan. Pengunjungnya ramai dan beragam. Mulai dari polisi, tentara, babinsa, pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya. Menunya beragam, masakannya enak. Saat itu saya tidak terpikir untuk bertanya sejak kapan warung ini berdiri. Tetapi saya coba memberi dua asumsi. Pertama, warung ini sudah turun temurun, dari generasi ke generasi. Kedua, sebagaimana nama adalah doa, pendiri dan pemilik warung ini berharap warung ini akan diturunkan ke generasi selanjutnya, dirawat dan dikembangkan keberadaan serta cita rasanya. Warung ini juga menjadi pengingat bahwa Samboja memiliki banyak warisan yang juga harus dijaga eksistensinya, keberadaan warung ini dan keberadaan lahan pangan salah duanya.