Penanganan Gulma di Sungai Mahakam


 

Samarinda, (18/12/2020). Dalam rangka penanganan penumpukan tanaman Gulma di Sungai Mahakam atau yang biasa disebut napung oleh warga , Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menggelar rapat koordinasi untuk menangani hal tersebut.

Disampaikan oleh plt Kepala Bidang Infrastruktur  Kewilayahan Ibnu Abbas, S.Sos, M.Si penumpukan gulma yang semakin meluas dikhawatirkan mengganngu aliran sungai Mahakam dan alur transportasi, pasalnya penumpukan gulma tersebut hanyut terbawa arus dari daerah hulu sungai.

Terdapat 3 titik penumpukan gulma, diantaranya berlokasi di Jantur, Rempanga, dan Sengkotek (dibawah jembatan Mahulu), laju gulma dari Desa Jantur sampai ke jembatan Mahulu lebih kurang selama 10 hari, dan yang bersifat mendesak untuk ditangani berada di Sengkotek (dibawah jembatan Mahulu).

BWS Kalimantan III telah berkoordinasi dengan Lurah Sengkotek dan melakukan kunjungan lapangan, diperkirakan volume gulma yang akan diangkut kurang lebih 1.000m3. Sehingga direncanakan untuk melakukan pembersihan/pengangakatan gulma dan menampung gulma di disposal sementara untuk selanjutnya diangkut ke disposal akhir.

Namun terdapat kendala untuk pengankatan gulma tersebut dikarenakan jalan akses alat berat untuk pengangkatan gulma terhalang bangunan berupa kios (kondisi eksisting berupa pasar kecil).

(HumasBappedaKaltim/Fat/Editor : Sukandar, S.Sos)